Bab 3 Malam Yang Buruk Part 1
"lya Den, tapi buat masalah ini Aku udah
putusin Den buat berhenti kuliah saja. Aku
akan fokus buat bekerja saj" ujar Putri.
"baiklah Put, tapi kalo kamu perlu bantuanku kamu katakan saja ya" pinta Denis.
"Siapp tuan Denis Atmajaya" Jawab Putri
dengan mengangkat tangannya sambil
hormat.
Denis pun tersenyum, melihat gadis cantik itu bahagia dan selalu penuh semangat.
Sampailah ditempat kerja.
Denis turun dan membukakan pintu mobil
buat Putri, Putri yang langsung tersipu malu karena banyak yang melihatnya membuat dirinya salah tingkah.
"Denis, makasih ya" ucap Putri.
"Sama-sama Putri, masuklah" suruh Denis
Denis pun lalu beranjak masuk ke dalam mobilnya untuk kembali ke kampus.
"Put, tadi siapa?" tanya Nina tiba-tiba.
"Ituu tadi Denis, teman kuliah aku Nin" jawab Putri.
"Manis sekali itu cowok, kenalin aku ke dia
dong Put" renggek ayu.
"lya Nin, lain kali aku kenalin kamu ke dia" jawab Putri
"Putri, kamu itu memang sahabatku yang paling baik" ucap Nina sambil memeluk Putri dengan girang.
"Udah..udah ayo kerja dulu" ajak Putri.
seperti biasa, jam pagi sudah mulai rame
pembeli, Putri dan Nina sampai kewalahan
karena hari ini antrian lumayan banyak.
beberapa jam kemudian.
"Akhirnya selesai juga pekerjaan kita!" ucap Nina yang merasa senang.
"Put, aku harus pulang duluan nih kamu bisa gantiin jadwal piket aku kan" ujar Nina
"Baiklah" jawab Putri
"Put,aku pergi duluan ya. beresin semua ya." Ujar Nina lalu beranjak pergi
Putri bekerja di Restoran Senna Djanuar sebuah restoran Yang sangat mewah di kota ini, kali ini Putri harus membersihkan semua meja dan lantai dulu meskipun jadwalnya untuk piket kebersihan adalah tapi Putri harus menggantikan jadwal nya karena Nina ada keperluan dadakan.
Jam menunjukkan pukul 22.37
WIB. Semua karyawan sudah pulang, hanya dia saja yang masih tinggal.
Putri menyapu setiap ruangan dengan
hati-hati. Merapikan dan mengelap setiap
meja. Mengumpulkan setiap sampah yang ada di meja dan memasukkan ke dalam kantong sampah besar. Mencuci
piring dan gelas sisa makan para pelanggan. Memastikan kondisi setiap ruangan itu menjadi bersih dan nyaman untuk para pelanggan,
Putri sedikit terkejut melihat lampu
diruang Pak Senna masih menyala. Belum pulang kah Pak Senna? Apa yang dilakukan beliau pada jam segini? Kenapa beliau belum pulang. Apa yang harus dilakukannya? Haruskah dia menunggu Pak Senna pulang baru membersihkan ruangannya? Atau menunggu besok pagi saja? Jujur saja, selama dua bulan dia bekerja di restoran ini dia belum pernah
melihat direkturnya itu secara dekat. Tapi
menurut informasi dari sesama temannya, Pak Senna itu orangnya
tampan dan dingin. Sangat menjaga jarak
terhadap bawahannya. Beliau hanya mau
berhubungan dengan orang-orang yang
dianggapnya penting saja. Orang-orang
seperti Putri sangat tidak mungkin bisa
berkomunikasi dengan Pak Senna.
namun setelah pertimbangan agak lama pada akhirnya dia memilih untuk menunggu. Dari dalam ruangan tersebut, Putri mendengar atasannya sedang berbicara dengan nada tinggi. Untuk ukuran orang sedingin dan setenang pak Senna, rasanya cukup luar biasa mendengarnya berbicara seperti itu. Sepertinya atasannya itu sedang
berdebat dengan seseorang dan pada
akhirnya..
PRAAANGGG!
Tiba-tiba terdengar barang pecah, disusul
dengan suara barang pecah lainnya.
Putri terhenyak dalam diamnya. Seketika
nyalinya menjadi ciut. Pak Senna benar-benar marah. Moodnya benar-benar tidak bagus saat ini. Sepertinya ini bukan waktu yang
tepat untuk membersihkan ruangannya. Akhirnya Putri memutuskan untuk pulang, dan membersihkan ruangan itu keesokan
harinya. Dia berbalik dengan tiba-tiba dan...
PRAAANGGG!
Dia memecahkan gelas yang ada
di meja. Putri cepat-cepat
berjongkok, mulai mengambil satu-persatu pecahan pot dengan tangan gemetaran. Dia berharap Pak Senna yang sedang marah itu tidak mendengar suara gelas yang pecah.
"Siapa disana?!" Teriak Pak Senna
DEG!!
Putri mendengar suara pintu dibuka dan
suara langkah kaki berjalan mendekat
padanya. Dengan pelan-pelan dan
ketakutan dia menoleh ke belakang, dan benar saja. Laki-laki itu sudah berdiri di
belakangnya dengan sikap mendominasi.
Benar kata Nina, Pak Senna laki-laki
yang sangat tampan. Tingginya mungkin
185 cm, badannya berotot dan raut
wajahnya sangat maskulin. Wajahnya
perpaduan antara Jawa dan Eropa.
Benar-benar eksotik. Hidungnya mancung, bibirnya tipis dan sangat sensual.
Sedangkan matanya, matanya terlihat
sangat marah ketika melihatnya. Dilihat dari sudut pandang manapun, laki-laki tampan ini sepertinya sedang mabuk. Bau minuman keras mulai tercium dari tubuhnya.
"Siapa Kamu?!" Tanya Pak Senna
"Saa...saa... Kasir di Restoran ini Pak..." Jawab Putri ketakutan
"Sedang apa disini?!" Tanya pak Senna
"Eh..Uhmm...Se..sedang piket kebersihan Pak... kebetulan hari ini jadwal saya" jawab Putri menerangkan
"Kamu menguping pembicaraanku kan?" Teriak pak Senna
"Tii..Tidak Pak.." jawab Putri
"Jangan berbohong Kamu!! Sini Kamu!" Teriak pak Senna sambil menarik tangan Putri, menyeretnya ke ruangannya. Kemudian menghempaskan tubuh Putri ke sofa ruang kerjanya.
BRUUUKKK
Putri terjatuh ke atas sofa dengan keras.
Sebelum dia menyadari apa yang terjadi
Pak Senna tiba-tiba sudah berada di atasnya Mengunci dan menindih tubuhnya. Dengan satu tangan Senna memegang kedua tangan Putri, sedangkan tangannya yang lain mencengkram wajah wanita itu.
"Hei wanita!! Berani-beraninya Kamu
mencampakkanku!!"
Pak Senna mulai meracau. Matanya merah dan tidak fokus, kemudian dia menutup mulut Putri dengan bibirnya. Melu***a* habis bibir wanita itu. Tangannya mengunci wajah
Putri agar tidak bisa menghindar dari
ciumannya. Putri berusaha berteriak. Namun suaranya tak kunjung keluar dari mulutnya. Putri berusaha melepaskan diri,
tapi tubuh laki-laki itu terlalu kuat. Dia
benar-benar tidak menyangka akan
mendapatkan perlakuan seperti ini.
Sepertinya bosnya itu sedang mabuk parah, itu terlihat dari bau napasnya dan tingkah lakunya yang salah mengenali orang. Putri meronta-ronta, berusaha
menggunakan kakinya untuk menendang.
Tapi semua itu percuma, tubuhnya sudah
terkunci, tidak ada kesempatan baginya
untuk melepaskan diri.
Putri mulai menangis. Bulir demi bulir
air mata mulai mengalir disudut matanya.
Sementara Pak Senna masih terus menciuminya dan menggigitnya.
part 2
Ciuman yang brutal, penuh kemarahan.
Tangan pak Senna mulai menjelajah. Menarik paksa baju Nisha sehingga membuat kancing-kancing baju itu terlepas dan berserakan dimana-mana. Senna menatapnya dengan mata nanar. Pancaran api gairah dan kemarahan terlihat dimatanya. Secepat kilat dia menerkam Putri.
"To.tolooonngg! Tooloonngg!! Paaakkk,
tolonggg lepaskan Saya Pak!"
Putri berusaha berteriak dengan suaranya
yang tercekat. Dia begitu putus asa.
Sepertinya dia sudah merasa bahwa hal
buruk akan terjadi padanya. Yang bisa
dilakukannya hanyalah berteriak untuk
meminta pertolongan. Senna menyumpal mulut Putri dengan tangannya, dia masih saja terus melanjutkan aktivitasnya. Dengan tidak sabar Senna melepas pakaian Putri dengan paksa, setelah berhasil membukanya kemudian dia melepaskan Putri sebentar dan melepaskan pakaiannya sendiri. Kesempatan ini digunakan Putri untuk bangkit dan berlari ke arah pintu. Namun sebelum dia mencapai daun pintu, tubuhnya sudah disergap dari belakang dan digendong dibahu laki-laki itu.
"Pakk! Lepaskan Saya!! Jangan perkosa
Saya Pak!! Tolong Pak!"
Putri berteriak-teriak menghiba.
Wajahnya terlihat panik, air mata
mengalir dengan derasnya. Namun Senna
mengabaikannya. Matanya sudah tertutup nafsu, pikirannya sudah tidak lagi jernih. Yang ada dipikirannya hanyalah dia harus melahap wanita ini, membuatnya tunduk. Agar wanita itu tahu bagaimana rasanya dicampakkan!
"Diam Kamu wanita!! Bukankah ini yang
Kamu mau? Hah?! Sekarang rasakan
akibatnya! Tidak ada seorang wanita pun yang bisa mencampakkan seorang Senna" ujar Senna dengan nada marahnya.. lalu kembali menghempaskan tubuh Putri ke sofa dan menindihnya. Dengan seluruh tubuhnya dia menutup tubuh Putri. Menekan tubuh Putri dengan berat tubuhnya, berusaha untuk menaklukan tubuh wanita mungil itu.
Dia kembali ******* bibir Putri, tidak
memberikan kesempatan Putri untuk
melawan. Sementara tangannya menjelajah kesana kemari. Senna mulai memposisikan tubuhnya.
"Pak, tolong lepaskan Saya. Saya hanya
seorang kasir Pak. Tolong Pak.." lirih Putri mulai menangis sesegukan. Suaranya mulai lirih karena terlalu banyak menangis. Tubuhnya mulai lelah karena terlalu banyak melawan. Dengan lemah Putri memukul-mukul dada Senna, yang tidak berdampak apa-apa pada pria itu.
Senna tetap tidak menghiraukannya. Matanya sudah sangat tertutup oleh nafsu, dia sudah tidak peduli dengan siapa dia bercinta. Yang dibutuhkannya sekarang adalah dia harus melepaskan dorongan hasratnya saat ini juga. Akhirnya dengan sekali hentakan Senna
menguasai tubuh Putri.Putri menjerit kesakitan, Senna menutup mulut wanita itu dengan mulutnya. Dia tetap mendorong tubuhnya ke dalam tubuh Putri dengan kasar, membuat tubuh
wanita itu gemetar kesakitan. Putri tidak
mampu melawan lagi, hanya air mata yang
masih mengalir dari sudut matanya. Tatapan matanya menjadi sayu dan kosong. Dia sudah ternoda.
Senna berhasil menguasai tubuh Putri. Senna menciumi bibir Putri dengan lembut. Dia mengeksplore mulut Putri dengan hati-hati. ******** dan mengigit bibir itu, bermain-main dengan lidah lembutnya. Senna benar-benar menikmati percintaan ini.
Senna mulai meracau. Sesekali dia mencium kening Putri yang dipenuhi dengan keringat, mengecup bibir ranumnya dan menciumi tengkuknya. Wanita itu tidak bergerak, tatapannya kosong, air mata terus mengalir di sudut matanya. Namun tubuh wanita itu tidak bisa berbohong. Mungkin wanita itu menolaknya, tapi tidak dengan tubuhnya. Setelah lama berpacu,Senna mulai merasakan batas dirinya. Senna mengerang panjang. Selama beberapa
waktu, hanya keheningan yang ada di
antara mereka. Senna berusaha mengatur napasnya kembali, kemudian dia mulai tersadar dengan apa yang dilakukannya. Senna menatap wanita dibawahnya, dia kaget melihat kenyataan bahwa wanita itu bukan Istrinya.
Senna segera melepas pelukannya. Dengan buru-buru dia bangkit dari sofa. Menatap wanita yang terbaring di sofa itu dengan tidak percaya. "Siapa wanita ini? Mengapa ada diruangannya? Tadi aku ingat menarik tangan istriku ke ruangan ini. Apa aku salah ingat? Apakah sebenarnya yang aku tarik adalah tangan wanita ini?" Ujar Senna dalam hati nya.
Komentar
Posting Komentar