Bab 4 PENDERITAAN
Arrgghhh! Bodoh! Bodoh!!
sungguh membuatku jadi orang
bodoh. Senna mencari-cari pakaiannya,
kemudian dia mulai membersihkan diri
sebelum memakai pakaiannya kembali. Senna melihat hal yang janggal. Dia melihat ada darah di tissue. Dengan cepat Senna memeriksa tubuhnya. Dia khawatir tubuhnya terluka. Namun dia tidak menemukan luka pada tubuhnya, lalu darah siapa di tissue ini? Senna menatap wanita yang masih berbaring itu, dia mulai memperhatikan tubuh wanita itu.
DEG
Ada darah di tubuh wanita itu. Apakah
wanita itu masih perawan? Akhhh, apa yang harus aku lakukan? Benarkah aku memperkosa seorang perawan? Pantas saja rasanya sangat berbeda dengan wanita-wanita yang pernah bercinta denganku selama ini.
Senna menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kembali memakai pakaiannya dengan cepat. Kemudian tanpa menoleh pada wanita itu, dia menulis sejumlah cek.
"Pakai bajumu. Dan ini ceknya. Aku
pikir jumlah ini cukup untuk harga
keperawananmu." Senna meletakkan cek itu di meja, kemudian dia mulai pergi
meninggalkan ruangan. Sebelum mencapai pintu dia kembali berkata.
"Jangan Iupa tutup pintu setelah Kamu
keluar." Dan dia pun menghilang dari balik
pintu. Nisha masih terbaring kaku. Dia
benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dialaminya malam ini. Air mata tak henti-hentinya keluar dari sudut matanya. Dia benar-benar tidak menyangka akan menjadi korban pemerkosaan oleh bosnya
sendiri. Lama Nisha terdiam dengan tubuh yang Lama Nisha terdiam dengan tubuh yang masih telanjang. Pikirannya begitu kosong. Dia tidak bisa mencerna kejadian yang baru saja dialaminya. Hanya air mata yang menjadi saksi penderitaannya. Setelah puas menangis, dia mulai menggerakkan tubuhnya. Memunguti setiap pakaiannya yang tercecer dilantai dan memakainya
dengan pelan-pelan. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di area itu. Dia menatap tubuhnya dengan pandangan jijik. Tiba-tiba dia merasa menjadi wanita paling kotor di bumi. Nisha menutup wajahnya dan mulai menangis dengan keras. Malam itu dihabiskannya dengan menangis dan menangis. Menjelang tengah malam, Nisha
menghentikan tangisnya. Dengan
terseok-seok dia berjalan keluar dari
ruangan itu. Meninggalkan beberapa lembarvcek tetap berada di atas meja.
Di parkiran, dia berusaha mengambil
sepeda dan mengayuhnya. Namun karena
tubuhnya yang begitu lemah, dia tidak
sanggup mengayuh sepeda itu. Akhirnya
dengan tangan gemetar dia memesan ojek online. Sesampainya di kosan, Nisha merebahkan tubuhnya dengan hati-hati. Dia menatap dinding kamarnya dengan mata kosong. Pikirannya menjalar kemana-mana. Dia begitu bingung harus bersikap seperti apa kepada Tantenya.
Sesampainya di rumah pintu nya sudah terkunci,,
"Darimana saja kamu jam segini baru pulang" teriak Tante Sarah lalu menyeret Putri kedalam
Putri kembali menangis sambil kesakitan,
"Apa ini kenapa darah, apa kamu menjual diri kamu" Tante Sarah semakin marah ketika melihat ada darah di bajunya Putri Tante Sarah memukul Putri lalu mendorong nya keluar rumah
"Lebih baik kamu tinggalkan saja rumah ini, Tante tidak mau punya keponakan yang gak tahu malu seperti kamu, pergi" dengan nada ketus nya mengusir Putri
"Maaf tante, Putri benar-benar tidak sengaja" jawab Putri sambil menangis.
"Maaf..maaf dan maaf dasar Anak tidak
berguna" teriak Tante Sarah, sambil memukul Putri.
"Sakit Tante.. sakit... ampun ampun Putri
salah, jangan usir Putri" kata Putri sambil menangis, karena merasa kesakitan, dan bingung harus kemana malam malam.
Tante Sarah memang perempuan yang
kejam, mereka hampir setiap hari menyiksa Putri ada ataupun tidak kesalahan Putri selalu disiksa. Tapi kali dia memang menyadari bahwa dia telah melakukan hal yang sangat kotor, dan memalukan... Putri kembali berjalan meninggalkan rumah Tantenya,, hujan deras membasahi dirinya,
"Jika Orangtuaku masih ada, pasti
Dia juga akan mengusirku dari rumah, Mama,Papa maafin Putri,Putri merindukan kalian. mungkin
kalau Kalian masih ada nasib Putritidak akan seperti ini" Keluh Putri yang penuh dengan kesedihan dihatinya.
"Aku tidak boleh sedih! Aku harus kuat Aku tidak mau orangtuaku melihat Aku sedih disurga sana!!" kata Putri pada diri sendiri, yang diiringi dengan isak tangis dan guyuran hujan lebat,,
Akhirnya Putri memutuskan untuk pergi ke yayasan Anak-anak yatim-piatu, Putri kedinginan akibat guyuran hujan yang membasahi nya, ditambah lagi Putri belum makan dari tadi siang Putri pingsan dihalaman Yayasan,,,
Keesokan harinya Ibu Yanti yang melihat Putri masih terbaring di halaman akhirnya membawa nya ke kamar, tak lama kemudian Putri terbangun memegang kepalanya yang masih sedikit pusing,
"Apa yang terjadi Kenapa kamu bisa ada di halaman Panti" tanya Bu Yanti
Komentar
Posting Komentar